Minggu, 07 Desember 2008

COLUMBINE HIGH SCHOOL MASSACRE (Part 2)


Nah….berhubung ini adalah paper sosiologi dengan tema masalah sosial, maka yang dianalisis adalah peristiwa tersebut ditinjau dari segi sosiologis. Dalam bukunya yang berjudul Sosiologi Suatu Pengantar, Soerjono Soekanto mendefinisikan masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Atau, menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut, sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial. Lebih lanjut lagi beliau menjelaskan masalah sosial timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada faktor-faktor ekonomis, biologis, biopsikologis dan kebudayaan. Setiap masyarakat mempunyai norma yang bersangkut-paut dengan kesejahteraan kebendaan, kesehatan fisik, kesehatan mental, serta penyesuaian diri individu atau kelompok sosial. Penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma tersebut merupakan gejala abnormal yang merupakan masalah sosial. Sesuai dengan sumber-sumbernya tersebut, maka masalah sosial dapat diklasifikasikan dalam empat kategori seperti di atas. Problema-problema yang berasal dari faktor ekonomis antara lain kemiskinan, pengangguran, dan sebagainya Penyakit, misalnya, bersumber pada faktor biologis. Dari faktor psikologis timbul persoalan seperti penyakit syaraf (neurosis), bunuh diri, disorganisasi jiwa dan seterusnya. Sedangkan persoalan yang menyangkut perceraian, kejahatan, kenakalan anak-anak, konflik rasial dan keagamaan bersumber pada faktor kebudayaan.

Sudah tentu, acapkali suatu masalah dapat digolongkan ke dalam lebih dari sati kategori. Misalnya, kemiskinan mungkin merupakan akibat berjangkitnya penyakit paru-paru yang merupakan faktor biologis atau sebagai akibat sakit jiwa yang bersumber pada faktor psikologis. Atau, dapat pula bersumber pada faktor kebudayaan, yaitu karena tidak adanya lapangan pekerjaan, dan seterusnya. Hal yang sama terjadi pada kasus tragedi pembantaian Columbine yang merupakan masalah sosial yang timbul akibat dari faktor psikologis dan faktor kebudayaan yang akn dibahas berikutnya.


A. Apakah Tragedi Columbine Itu

Tragedi Columbine merujuk kepada penembakan membabi-buta yang terjadi pada Selasa, 20 April 1999, di SMA Columbine di Kabupaten Jefferson, Colorado, dekat Denver, Amerika Serikat. Dua siswa remaja, Eric Harris dan Dylan Klebold, melakukan penembakan membabi-buta, hingga menewaskan 12 rekan siswa dan seorang guru, serta melukai 24 orang lainnya, dan kemudian melakukan bunuh diri. Kejadian ini dianggap sebagai penembakan di sekolah yang paling banyak menelan korban, dan serangan kedua yang paling hebat di sebuah sekolah dalam sejarah Amerika Serikat setelah tragedi Sekolah Bath.


B. Kapan Tragedi Tersebut Terjadi


Tragedi tersebut terjadi pada hari Selasa, 20 April 1990, sekitar pukul 11.22 siang waktu setempat. Berawal dari peledakan bom propana yang gagal yang ditaruh dalam 2 tas jinjing besar, masing-masing memiliki berat 20 pound (9 kg), di kafetaria sekolah dan dilanjutkan dengan penembakan besar-besaran secara acak di sepanjang koridor sekolah.
Penembakannya sendiri berlangsung sekitar selama 16 menit dan berakhir dengan tewasnya kedua pelaku pada pukul 12.08 waktu setempat akibat bunuh diri dengan senjata yang mereka gunakan.


C. Di mana Tragedi Tersebut Terjadi

Tragedi penembakan tersebut terjadi di SMA Columbine, distrik Littleton, Colorado, Denver, Amerika Serikat. Diawali dengan peledakan bom propana di kafetaria sekolah, lalu penembakan di sepanjang koridor sekolah, dan yang paling banyak memakan korban terjadi di perpustakaan.


D. Siapa Pelaku Tragedi Tersebut

Pelaku tragedi penembakan tersebut adalah kedua siswa dari SMA Columbine bernama Eric Harris (18) yang ditengarai pihak kepolisian sebagai mastermind atau ‘otak’ dari aksi tersebut dan sahabatnya yang bernama Dylan Klebold (17).

Eric David Harris lahir pada tanggal 9 April 1981 di Wichita, Kansas. Orang tuanya, Wayne Nelson dan Katherine Ann Harris keduanya lahir di negara bagian Colorado tetapi karena karir Wayne sebagai seorang pilot transportasi di Angkatan Udara menyebabkan keluarga tersebut sering berpindah-pindah. Mereka pernah tinggal di Ohio, Michigan dan New York. Ketika Wayne pensiun, ia dan Kathy memilih untuk tinggal di Littleton pada tahun 1996. Di sini Wayne bekerja pada Perusahaan Jasa Keamanan Penerbangan di Englewood. Kathy bekerja di perusahaan ‘catering’ di lingkungan yang sama. Teman-teman, tetangga, dan kenalan-kenalan keluarga Harris di semua tempat yang pernah mereka tinggali mengambarkan Wayne dan Kathy merupakan orang-orang yang baik, penuh perhatian dan selalu memberi dorongan yang baik kepada kedua putra mereka. Eric memiliki seorang kakak bernama Kevin Harris. Selama masa kecilnya, Eric Harris bermain dalam Liga Untuk Anak-anak dan ikut kelompok Pramuka.




Eric Harris


Eric dan Dylan menjadi teman akrab tidak lama setelah keluarga Harris pindah ke Littleton. Belum lama berselang mereka telah membuat ‘link’ untuk komputer di rumah masing-masing sehingga banyak waktu yang mereka habiskan untuk bermain ‘video game online’ yang belakangan diketahui bernama ‘Doom II’ yang memuat banyak unsur kekerasan di dalamnya. Eric sangat berharap bisa diterima masuk Korps Marinir tetapi lamarannya ditolak beberapa hari sebelum pembantaian tragis itu. Alasan yang diberikan kepadanya adalah bahwa Eric telah biasa mengkonsumsi obat anti-depresan ‘Luvox’, yang biasa digunakan untuk pasien penderita penyimpangan jenis obsesif-kompulsif. Obat ini ia konsumsi dalam rangka program pemulihan (anger management) pasca pembobolan mobil van tetangganya bersama Dylan. Luvox merupakan jenis obat dengan resep umum, yang biasanya tidak mempunyai efek samping fisik atau psikologis kecuali digunakan bersama-sama obat lain atau alkohol. Namun tidak ditemukan bukti adanya obat lain atau alkohol pada tubuh Harris setelah kematiannya.

Dylan Bennet Klebold, seperti Eric Harris, datang dari sebuah keluarga kelas menengah yang mapan dan sangat dihormati oleh teman, tetangga dan kenalan-kenalan mereka. Dylan lahir pada tanggal 9 September 1981 di Lakewood. Dia sudah bertahun-tahun tinggal di Littleton dengan orang tuanya, Susan dan Thomas Klebold, dan kakak lelakinya Byron.


Dylan Klebold


Tom Klebold, dulunya seorang ahli geofisika, mengoperasikan bisnis manajemen pegadaian dari rumah mereka sementara Sue bekerja pada Konsorsium Negara bidang Pendidikan Umum yang memberikan pelatihan pada murid-murid cacat. Kakek buyutnya, Leo Yassenoff dikenal sebagai tokoh Yahudi terkemuka di lingkungan setempat dan membangun sebuah Pusat Komunitas Yahudi (Jewish community center). Teman-teman dekatnya merasa bahwa Dylan mulai berubah setelah berteman dengan Eric Harris selama tahun 1996.

Sejauh yang diketahui, hanya ada sekali insiden yang menyangkut perilaku kriminal kedua anak ini di masa lalu. Pada bulan Maret tahun 1997, keduanya ditangkap atas tuduhan kejahatan karena melakukan tindakan kriminal membuka paksa sebuah mobil van milik tetangga dan mencuri beberapa barang didalamnya. Harris dan Klebold menunjukkan sikap yang sangat simpatik dan menimbulkan kesan yang baik pada petugas khusus anak-anak yang menangani kasus mereka. Karena itu mereka akan dibebaskan jika tidak mengulang lagi tindakan serupa dan berpartisipasi dalam sebuah program pemulihan moral. Harris diharuskan ikut pelatihan pengendalian kemarahan (anger management) dan sekali lagi, ia menanamkan kesan yang baik pada petugas-petugas di sana.


E. Mengapa Tragedi Tersebut Terjadi

Dari hasil investigasi yang terus berkembang, terkuak sisi lain kehidupan kedua anak itu. Ini sangat kontras dengan yang diketahui orang tua dan teman-teman dekat mereka. Ternyata Eric Harris mempunyai ‘website’ internet sendiri yang secara terbuka menungkapkan kemarahannya kepada orang-orang di Littleton, khususnya para guru dan murid di SMA Columbine. Pada situs ini, Harris menyatakan keinginannya untuk membalas dendam kepada siapa saja yang mengganggu dan menghinanya. Ia memiliki dua blog pribadi dalam website America Online (AOL) dan WBS (Web Broadcasting System). Nama virtualnya adalah ‘REB’ yang diduga singkatan dari Rebel, Rebdoomer, Rebdomine, dan lain sebagainya (terinspirasi dari video game online kesukaannya, ‘Doom II’). Dalam situsnya, terdapat tulisan-tulisan penuh kemarahan dan kebencian terhadap orang-orang di sekelilingnya, sketsa-sketsa grafis yang mengerikan, lelucon-lelucon yang sama sekali tidak lucu dan juga lirik-lirik lagu kesukaannya beraliran heavy metal yang berbau gothic dan kekerasan. Musisi yang menjadi inspirasinya adalah KMFDM (tidak diketahui singkatan dari apa) dengan lagu berjudul ‘Son of a Gun’, Joe Arpaio, Marilyn Manson, dan sebagainya, juga sebuah judul film ‘Natural Born Killer’ yang sering ia singkat menjadi NBK. Yang paling menarik perhatian adalah tulisannya sebanyak 15 halaman secara rinci mengenai ancaman dan rencana pembunuhan atas Brooks Brown, teman sekolah sekaligus kawan sepermainannya, yang kemudian dilaporkan oleh orang tua Brooks ke pihak kepolisian (laporan diterima oleh Detektif Michael Guerrera) namun tidak pernah ada tindakan lebih lanjut dari laporan tersebut dan hanya dijadikan arsip kenakalan remaja semata. Eric juga memiliki jurnal pribadi yang isinya kurang lebih sama dengan kedua websitenya. Malahan, dalam jurnalnya tersebut terdapat rincian rencana pembuatan bom dan pembunuhan besar-besaran yang pada akhirnya ia lakukan bersama Dylan pada 20 April 1999.




Sketsa yang digambar Eric Harris



Isi jurnal Eric Harris


Sementara itu Dylan Klebold yang lebih dikenal sebagai ‘pria jangkung yang pemalu’ aktif di sejumlah kegiatan ekstakurikuler, terutama di bidang IT, pernah diskors karena membobol sistem keamanan komputer sekolah demi mendapatkan password loker para murid untuk balas dendam. Sisi kekerasan pada dirinya mulai terlihat semenjak peristiwa pembobolan tersebut, disusul dengan beberapa tindakan di luar sekolah bersama Eric. Nama virtualnya adalah ‘V’ yang merupakan singkatan dari VoDKa, yang juga bergabung dalam situs game online bersama Eric.


Isi jurnal Dylan Klebold


Pada beberapa bulan sebelum tragedi penembakan, Eric dan Dylan sempat bekerja di restoran ‘Blackjack Pizza’ dan mulai membuat beberapa kekacauan seperti mengujicobakan bom pipa buatan mereka yang informasi pembuatannya didapat dari internet hingga menimbulkan kebakaran di dapur restoran. Dari pekerjaan tersebut jugalah mereka mendapatkan akses untuk membeli senjata melalui rekan kerjanya yang sudah dewasa (karena Undang-Undang Persenjataan di Colorado memberikan batas umur 21 tahun untuk pembelian senjata, sementara itu keduanya belum cukup umur), yaitu melalui Mark Manes dibantu oleh Philip Duran dan teman sekolah Dylan yang sempat dikencaninya, yaitu Robyn K. Anderson. Senjata yang dibeli adalah jenis semi-otomatis TEC-DC9 dan setelah mendapatkan senjata tersebut (2 minggu sebelum penembakan) mereka membuat video latihan menembak yang berlokasi di ‘Rampart Range’. Dalam video yang direkam pada bulan Maret 1999, mereka berlatih dengan Mark dan temannya yang bernama Jessica Miklich yang kemudian dipertontonkan kepada teman sekolah sekaligus rekan kerjanya di restoran pizza, Nathan Dykeman. Dalam video tersebut terlihat Eric dan Dylan yang sedang berlatih menembak dengan pin-pin bowling dan pohon-pohon pinus sebagai sasaran dan mereka tampak sangat menikmati hal itu, terutama ketika tembakan mereka mengenai sasaran.

Sejumlah murid menceriterakan dalam beberapa kesempatan Harris dan Klebold membual akan membalas dendam secara besar-besaran di sekolah tersebut, karena merasa diejek dan dianggap orang buangan (Trench Coat Mafia outcasts). Sebuah proyek video sebagai tugas dari sekolah yang dibuat kedua anak ini memperlihatkan bagaimana mereka berjalan di koridor sekolah sambil memegang senjata, membunuh siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Mereka sangat kecewa ketika guru tidak membolehkan video yang berjudul ‘Hitmen for Hire’ tersebut diperlihatkan pada murid-murid lain karena kekerasan yang ditampilkan.

Tanda-tanda peringatan lain adalah ketika bulan September 1998 Harris dan Klebold (bersama Brooks Brown) mengikuti Creative Writing class (Kelas Menulis Kreatif) dengan Ms Judith Kelly sebagai guru pembimbing. Dalam salah satu tulisannya Klebold membuat cerita tentang seorang pria yang datang ke sebuah kota dan membunuh semua anak-anak populer. Ketika Ms Kelly melaporkan tulisan tersebut pada orang tua Klebold, ia berkilah pada orang tuanya bahwa itu hanyalah cerita belaka. Sedangkan Harris dikenal dengan tema-tema kekerasan dalam tulisannya, seperti Nazisme, dan lain-lain. Banyak guru di sekolah itu menggambarkan kedua anak muda itu mengalami depresi, kemarahan, dan merupakan pengagum Nazisme. Dalam benak beberapa guru, Harris dan Klebold telah menunjukkan tanda-tanda yang mulai mengganggu dari kecenderungan mereka akan kekerasan, dan guru-guru ini telah mengungkapkan kepeduliannya. Namun, tidak ada tindakan yang diambil, karena pada kenyataannya mereka tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkan gejolaknya itu.

Berlawanan dengan kepedulian yang semakin meningkat dari para guru, pihak keluarga Harris dan Klebold mengklaim tidak pernah diinformasikan tentang masalah perilaku anak mereka. Kurangnya komunikasi antara pembimbing khusus anak-anak, petugas-petugas atau guru-guru dan orang tua memungkinkan Eric Harris dan Dylan Klebold menemukan sendiri dunia yang paling dekat dengan mereka, sehingga secara sembunyi-sembunyi merencanakan suatu cara untuk memenuhi fantasi-fantasi kekerasan dan kemarahan mereka.

3 komentar:

niez-hwa mengatakan...

wah, ngeri bangetz deh......!

kebetulan aku juga pernah ngeliat film dokumenter penembakan di Columbine High School yg diputar di Metro TV

makasih atas infonya

saya jadi lebih tahu alasan mereka melakukan pembunuhan

abis di wikipedia ga' ada siy

mbak pernah liat film yg judulnya "Elephant" nggak?

itu kayaknya dapat inspirasi dari tragedi columbine

truz eric harris sama dylan itu homo nggak? ato mereka cowok normal?

he he...

maap nanyanya nggak penting
:-)

fitya mengatakan...

o ya ampun . gila ngeri abiz yah . thx banget ataz infony .

duu ternyata berkisah seperti itu yah kisahnya ! weeww ~
tapi dari ini ak bisa lebih tau gimana "bully" di AS ! ternyata lebih ngeri daripada di sini !

Unknown mengatakan...

BahaYa bully
Stop bully
Dampaknya sangat bahaya