Jumat, 28 November 2008

Freeganism; Sebuah Gaya Hidup Alternatif Anti Konsumerisme

Suatu ketika saya menonton salah satu talk show favorit saya, Oprah Winfrey Show, pada salah satu episodenya benar-benar membuka mata saya. Bayangkan, di New York City, kota besar yang dipenuhi dengan jutaan penduduk yang memiliki gaya hidup kosmopolitan, ternyata ada sekelompok orang yang sudah cukup muak dengan sikap konsumtif orang-orang di sekelilingnya. Di antaranya adalah Madeline. 3 tahun sebelumnya ia adalah seorang eksekutif dengan gaji jutaan dollar. Tapi suatu ketika ia mulai berpikir betapa konsumtifnya dirinya selama ini, “ I started thinking about what I was consuming. “ “ I started looking at how much I was consuming and how consumerism is really driven by corporations who make lots and ots of money by getting us to buy things,” katanya seperti yang dilansir di Oprah.com. Pernyataannya tersebut menggugah hati saya. Walaupun saya tidak hidup di kota yang besar-besar amat sepertinya, namun sayapun mulai berpikir seberapa konsumtif saya selama ini.

Madeline bersama komunitasnya setiap malam mengadakan “trash tour” atau tur sampah di New York. Ketika saya menonton videonya awalnya saya merasa jijik. Bagaimana tidak, komunitas yang disebut freegans itu mengaduk-aduk tempat sampah di halaman belakang sebuah swalayan mencari-cari makanan yang masih layak konsumsi. And you know what, they found a lot! Merekapun tampak senang dengan hasil temuan masing-masing. Kelihatannya seperti baru menemukan harta karun. Ada yang menemukan selusin telur yang masih utuh, sekotak muffin yang layak konsumsi, fruits, vegetables, dsb. Tapi yang mengherankan saya adalah mereka samasekali tidak merasa jijik dan kalau saya perhatikan lagi videonya, memang temuan-temuan tsb dalam kondisi yang utuh dan masih layak konsumsi. Pertanyaan yang menghinggapi kita semua adalah: mengapa kalau masih layak konsumsi lantas dibuang? Nah, jawabannya sungguh konyol. Produk-produk tsb dibuang bukan berdasarkan alasan sudah tidak layak konsumsi karena busuk, atau alasan lainnya yg menyangkut kesehatan konsumen, namun karena alasan estetika. Misalnya saja selusin telur yang ditemukan Madeline. Hanya karena gara2 dalam dus tsb ada satu telur yg pecah, maka keseluruhannya dibuang oleh pihak swalayan. Padahal 11 lainnya masih utuh dan layak konsumsi. Sebegitu parahnya konsumerisme yang menjangkiti sebagian besar masyarakat di AS, sehingga muncullah istilah freeganism.

Freeganism adalah sebuah gaya hidup yang dipilih oleh sekelompok orang untuk menjauhi gaya hidup konsumerisme yang sekarang ini menjangkiti hampir sebagain besar masyarakat dunia, terutama di AS. Mereka berusaha keluar dari sistem sosial yang mengagungkan konsumerisme dan disebrluaskan oleh kaum kapitalis yang UUD alias Ujung-Ujungnya Duit. Freegan adalah sebutan bagi orang yang menganut freeganism. Ketika reporter CNN utk Oprah Wifrew Show, Lisa Ling, berkunjung ke apartemen Madeline, ia terkejut karena hampir sebagian besar barang-barang di apartemennya merupakan barang lama, namun tertata rapih dan dalam kualitas yg layak pakai. Bahkan Madeline sudah 2 tahun tidak membeli baju baru! Ia memutuskan utk menjadi freegan setelah merasa lelah bekerja dgn gaji jutaan dollar dan menemukan kenyataan bahwa ia bekerja keras selama ini utk memperoleh uang yg lebih banyak utk membeli barang lebih banyak. Dan perlahan ia mulai sadar, dgn uang banyak lalu bisa membeli banyak barang bagus, apakah sebenarnya ia benar-benar memerlukan itu semua? Lalu juga terbesit pemikiran bahwa tindakan konsumtifnya tsb hanya menghabis-habiskan sumber daya alam secara sia-sia. “ I would rather not have new clothes every year and not be using up all of the world’s resources, “ katanya. Bayangkan, jika dihitung-hitung, trash tour yg dilakukannya tsb dapat menghemat pengeluaran belanja antara US$100 hingga US$300 atau sekitar Rp 1 – 3 juta!! Lumayan banget kan…


Hal yang sama dialami oleh pasutri Daniel dan Amanda. Mereka memilih freegan lifestyle karena frustasi dgn budaya konsumerisme yg ada saat ini. Daniel bilang mereka hanyalah 5% dari populasi dunia tetapi mengonsumsi 30% dari sumber daya alam yang ada di bumi. Mereka tidak peduli apa kata orang dgn status mereka yg memiliki profesi cukup terpandang. Daniel adalah seorang insinyur dan Amanda adalah seorang dokter umum. Amanda bilang, “ We’d much rather be known as people that dig in trash than people that buy needless things. “ Sebuah pernyataan yang menurut saya cukup masuk akal. “ You have to learn to not get your happiness from things. It’s a pretty easy thing to learn once you try it, “ ungkapnya lagi. Hebat ya, mereka gak gengsi dgn gaya hidup pilihannya itu. Lihat aja fotonya Daniel yang lagi ngaduk-ngaduk tong sampah.



Madeline, Daniel, dan Amanda hanyalah segelintir orang yang berusaha memperjuangkan kelangsungan bumi kita dengan mencoba serangkaian cara simpel dalam hidup mereka dengan stop buying things, consume less and give more. Hidup sesederhana mungkin dan lebih banyak memberi. Kebetulan juga saya sudah 2 tahun belakangan ini secara tidak sadar mulai menghemat pengeluaran utk keperluan yang kurang penting seperti belanja baju, sepatu atau aksesoris lainnya (saya maklum dengan kebiasaan kaum wanita itu gara2 lapar mata)yang ujung2nya hanya akan menuh-menuhin kamar, cuma jadi pajangan dan 5 tahun kemudian*lebaayyyy*baru sadar kalau kita punya ‘sesuatu’ yang terpendam dan berdebu dalam kamar kita. Malah jadinya useless kan. Keuntungan lainnya adalah kamar jadi lebih mudah dibersihkan dan kita jadi lebih mudah menginventarisir barang2 sendiri kalau2 ada yang hilang. Remember, big things started with a small step right? ^_~

Tidak ada komentar: