Rabu, 01 April 2009

GUSAR


Di sudut lamunanku
Kau membawa kontemplasi-kontemplasi itu jadi nyata
Awalnya tak ada lalu menjadi ada
Eksistensimu menguat, merajut jejaring di pusat benakku.
Kadang diskusi; lebih sering perdebatan yang memicu adrenalinku. Menyebarkan emosi, menuntut kekuatan logikaku.
Terpaut jarak membuatku tak ayal bertanya-tanya TENTANGMU.
Dari planet mana kau berasal? Mengapa harus aku? Apakah makna ini semua?
Kau membuka kelambu; menarik haluan dan memutarnya sesukamu. Kemanapun kau mau.
Aku nyaris gila! Memikirkan semua kemungkinan tanpa sanggup mengharapkan semua itu jadi sebuah realitas.
Saatku berusaha menutupnya, kau seenaknya mendobrak
Sia-sia sudah pertahanan yang kubangun. 
Itu sebuah garis putus-putus (semu) atau jalinan tali?
Keheningan terkapar di depanku dan kemarahan
berdiaspora hampir menguasaiku.
Bergelayut seperti awan mendung di angkasa: Dunia pararel kita.
Sendi-sendi suaramu membetot relung sukmaku. Getarannya sok-sok mengatur pangkal syaraf motorikku.
Labirin-labirin alibimu. Sesat dalam senjaku.

Aku jengah. seperti takkan ada hari esok saja.
Kata-katamu seperti ingin memangsaku; menerkam.
Memerangkapku di balik jeruji asmara. Begitu pongah.
Kerandamu seperti ingin mengusungku. Aku lemah 
sekarang: tanpa rasio. Percuma semua metafor itu.
Tidak-ada-guna-nya. je-las. Payah.
Kucoba bantah semua itu.

Kotoran-kotoran yang tercecer tak sempat kubersihkan, 
bukankah itu debu kebencian? 
Rasanya masih menyengat permukaan pori-poriku. Lelah tak tentu arah.
bagai berputar dalam lorong-lorong sempit.
Jeritan-jeritan nafsu berbalapan menembus antero angin. Semburat cahaya ultraviolet meredupi bara api. Goncangan bumi menutupi amarah.
Aku goyah dan tertatih. Kombinasi ketiadaan daya.

Masihkah sekarang kau bersarang di situ? Kau tak lebih dari hama yang menggangguku hingga pening! Penuh-sesak.

Sumpah mati aku tak bilang begitu. Kau baik; sebaik satire yang menguasai logisku. Brengsek. Balau kau kacaukan. 
Perihnya sungu tak tertandingi. Manipulasiku sudah kehabisan koma: ini sudah berakhir.
Masihkah kau mampu mengutuk dan menyerapahinya?
Hah, undang saja semua tanyamu kalau begitu!

Tidak ada komentar: