axe,
Curio
It's all EVERYTHING that surrounds me


Rekaman CCTV: para siswa yang berlarian panik


Baku tembak antara sherrif dan Eric-Dylan dari jendela perpustakaan
salah satu foto kerusakan akibat tragedi tersebut
foto2 para korban tewas (tidak termasuk Eric-Dylan)
G. Tinjauan Tragedi Tersebut Dari Segi Psikologis dan Kebudayaan
Setelah penyelidikan selama 3 bulan, FBI yang melibatkan tim ahli dengan Dr. Frank Ochberg dari Michigan State University sebagai ahli kejiwaan dan Agen spesialis investigasi, Dwayne Fuselier, sebagai ketua tim, menyimpulkan bahwa Eric Harris merupakan seorang psikopat dan Dylan Klebold mengalami depresi berat. Hal ini terlihat jelas dari isi jurnal dan website pribadi mereka, juga video-video yang mereka buat.
Awalnya banyak orang awam yang salah memahami tragedi tersebut. Langkah pertama untuk memahami tragedi tersebut adalah menangkap hakikat bahwa kejadian tersebut adalah penembakan yang terjadi di sekolah (simply a school shooting). Fuselier dan Ochberg mengatakan dalam seminar mereka bahwa kita tidak dapat memahami mengapa mereka melakukannya hingga kita memahami apa yang sebenarnya mereka lakukan (we can’t understand why they did it until we understand what they were doing). Pelaku penembakan sekolah (school shooters) cenderung bertindak impulsif dan menyerang target yang berada dalam jangkauan mereka, yaitu para siswa dan staff sekolah, terutama para guru. Akan tetapi Harris dan Klebold telah merencanakan aksi tersebut selama setahun dan menginginkan serangan yang jauh lebih besar (rencana asli yang terdapat dalam jurnal mereka adalah setelah menghancurkan sekolah, mereka akan menghancurkan kota, bahkan ibu kota negara lalu membajak pesawat, kemudian menabrakkannya di New York hingga kabur ke Mexico), walaupun akhirnya rencana mereka ‘sedikit’ meleset dan berakhir di perpustakaan sekolah.
Fuselier dan Ochberg mengatakan bahwa bila kita ingin memahami mereka, berhenti menanyakan apa yang membuat mereka dapat berbuat seperti itu. Harris dan Klebold merupakan individu yang cukup berbeda dari orang kebanyakan; mereka memiliki motif berbeda dan kondisi mental yang berlawanan. Klebold dengan mudah dapat ditebak. Ia memiliki sifat kasar (walaupun sebelumnya dikenal pemalu), mudah marah, namun depresi berat dan berpotensi menyakiti dirinya sendiri. Ia menyalahkan dirinya atas berbagai masalah yang ia hadapi. Sejak terkena kasus pembobolan mobil van bersama Harris, ia merasakan sebuah titik dimana tidak ada jalan kembali (point of no return) dan sudah terlanjur merasa dirinya mendapatkan cap sebagai ‘kriminal’. Dan semenjak berteman dengan Harris, banyak yang mengatakan bahwa ia mulai berubah dan menjadi pengikut Harris. Juga dalam salah satu tulisannya dalam Creative Writing class yang dengan gamblang menggambarkan kronologi sebuah pembantaian yang kemudian menjadi kenyataan pada 20 April 1999, sampai-sampai guru pembimbingnya ragu untuk memberinya nilai hingga ia berhasil menjelaskan bahwa itu ‘hanya’ sebuah cerita.
Sedangkan untuk memahami Harris adalah sebuah tantangan. Wajahnya yang menggambarkan ‘anak baik-baik’ dan tutur katanya yang sopan membuatnya dikenal sebagai teman yang baik. Tapi sebenarnya ia berkepribadian dingin, penuh perhitungan dan mematikan. Bila Klebold cenderung menyakiti dirinya sendiri, Harris lebih berkeinginan untuk menyakiti orang lain. Ia bukan lagi tergolong ‘anak nakal’, namun sudah dikategorikan sebagai seorang psikopat. Menurut seorang pakar psikiatri, Dr. Robert Hare, psikopat merupakan kondisi mental spesifik dimana si penderita tidak mengalami delusi, halusinasi atau bahkan menjauhi kenyataan. Tidak seperti penderita gangguan jiwa lainnya, seorang psikopat menyadari sepenuhnya apa yang mereka lakukan dan mengapa mereka melakukannya.
Tanda-tanda yang menunjukkan Harris sebagai seorang psikopat adalah kata-kata dalam website pribadi dan jurnalnya, seperti :
“ YOU KNOW WHAT I HATE!!!? STUPID PEOPLE!!! Why must so many people be so stupid!!!? “
“ YOU KNOW WHAT I HATE!!!? …MANKIND!!!!...kill everything…kill everything…”
“ I hate you people for leaving me out of so many fun things. “
Kata-kata di atas dengan jelas menunjukkan ekspresi kemarahan dan kebenciannya terhadap orang-orang di sekelilingnya. Namun, menurut Fuselier sebenarnya terdapat emosi yang jauh lebih membara yang disamarkan dengan kebencian. Ia menderita superiority complex, dimana terdapat suatu perasaan ingin menghukum sekelompok manusia yang ia benci. Tanda-tanda berikutnya adalah bahwa Harris pintar memanipulasi dengan banyak berbohong. Dalam sebuah halaman di jurnalnya ia menuliskan, “ I lie a lot. Almost constantly, and to everybody, just to keep my own ass out of the water. Let’s see, what are some of the big lies I told? Yeah I stopped smoking. For doing it, not for getting caught. No I haven’t been making more bombs. No I wouldn’t do that. And countless other ones. “ Pada penderita psikopat, mereka sangat menikmati kebohongan mereka sekaligus untuk melindungi dirinya dari bahaya. Hal tersebut dikenal dengan istilah ‘Duping delight’ yang menjadi karakteristik utama dari seorang psikopat. Satu fakta lagi adalah bahwa ketika tertangkap basah membobol mobil van tetangga mereka, dalam program pemulihan Harris menuliskan surat kepada tetangganya tersebut untuk lebih dari sekedar permohonan maaf, melainkan menunjukkan empatinya, dan pada saat yang sama ia menulis umpatan terhadap tetangganya tersebut dalam jurnalnya. Hal tersebut memberikan petunjuk mengapa Harris mampu menembak teman-teman sekolahnya, membiarkan mereka menderita kesakitan, lalu menghabisi nyawa mereka. Hal tersebut dapat terjadi karena seorang psikopat tidak mampu merasakan sesuatu dengan tepat, misalnya cinta atau kebencian atau rasa takut, karena ia tidak pernah mengalaminya secara langsung. Oleh karena itu seorang psikopat mungkin saja membunuh lalu melukai dan bahkan memutilasi korbannya dengan merasa seperti halnya sedang memotong-motong daging ayam untuk dimasak.
Berangkat dari jiwa psikopat itulah FBI dapat menyimpulkan bahwa Harris sebgai mastermind atau ‘otak’ dari aksi pembantaian tersebut. Persahabatannya dengan Klebold merupakan suatu simbiosis mutualisme dimana keduanya saling melengkapi. Harris yang cenderung bersifat dingin dan penuh perhitungan mampu menenangkan Klebold ketika emosinya sedang terbakar. Pada saat yang sama, Klebold memberikan stimulan kemarahan yang Harris butuhkan. Para ahli memprediksikan jika Klebold tidak terpengaruh oleh Harris dan melakukan pembantaian tersebut, maka kemungkinan ia dapat mudah ‘diselamatkan’ dan menjalani hidupnya dengan normal. Sedangkan Harris berada dalam posisi yang lebih sulit. Ia sudah tak dapat diselamatkan lagi karena menderita psikopat. Di dalam tubuhnya telah tertanam jiwa pembunuh yang bersifat menghancurkan. Kematiannya telah menghentikan aksi selanjutnya yang lebih mengerikan seandainya ia masih hidup.
Diciptakannya berbagai media elektronik serta maraknya pemanfaatannya membuatnya penting di kalangan masyarakat di berbagai penjuru dunia. Di Amerika Serikat, secara bertahap media elektronik, khususnya komputer dan televisi telah berubah menjadi sarana yang ampuh untuk memarakkan budaya kekerasan dan kebebasan seksual, sehingga mengundang protes dari para pengamat sosial dan cendekiawan. Dewasa ini media elektronik, terutama televisi di Amerika, dikuasai oleh para kapitalis yang arogan dan hanya mementingkan keuntungan pribadi semata. Mereka menjadi kaya dan sukses melalui bisnis ini, namun mereka tidak memanfaatkannya untuk tujuan mencerahkan dan memberi penyadaran terhadap masyarakat. Di AS, sepertiga dari masyarakatnya rata-rata menonton televisi selama 4 jam lebih. Menurut para pengamat komunikasi, penonton dengan masa tontonan rata-rata 4 jam sehari sudah termasuk ke dalam pemirsa ekstrim dan profesional. Dengan alasan inilah, sewaktu media elektronik ini menayangkan adegan-adegan kekerasan dan kejahatan dalam acara-acaranya, amsyarakat terhanyut oleh pengaruhnya yang dahsyat. Fenomena ini dalam bidang komunikasi disebut ‘teori kultivasi’. Harris dan Kleboldpun nampaknya menjadi korban dari pemanfaatan media elektronik yang tidak sesuai porsinya. Hal tersebut dapat disimpulkan dari kebiasaan mereka bermain game online berjam-jam dan dalam game tersebut banyak mengandung unsur kekerasan. Secara tidak sadar mereka telah terpengaruh budaya kekerasan dari game tersebut.
Salah satu televisi di AS menunjukkan kenyataan ini dalam sebuah laporan angka-angka statistik. Laporan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kalimat-kalimat kotor dan menjijikkan selama tahun 1989 hingga 1999 telah meningkat 5,5 kali lipat. Selain itu, adegan-adegan kekerasan dan pornografi juga diperagakan secara lebih gamblang dan terang-terangan. Dalam sebuah pengamatan dan penelitian atas 3 saluran televsi besar AS yaitu CBS, NBC dan ABC, telah tercatat bahwa ketiga televisi besar itu setiap minggunya menayangkan 113 adegan pelecehan seksual, 92 adegan penyerangan menggunakan senjata api, 9 adegan pembunuhan, 78 adegan perkelahian, serta 179 adegan pelanggaran hukum. Tidak diragukan lagi, penayangan adegan-adegan kekerasan dalam media elektronik akan memberi pengaruh negatif pada anak-anak dan remaja. Mereka umumnya menjadikan media tersebut sebagai cermin dan teladan mereka. Berdasarkan penelitian sebuah lembaga psikologi di AS, anak-anak di negeri ini sebelum menamatkan pendidikan SD rata-rata telah menyaksikan 8 ribu kali adegan pembunuhan dan 100 ribu kali adegan kekerasan dalam media elektronik, terutama televisi. Angka-angka tersebut akan meningkat dua kali lipat ketika mereka menginjak usia 18 tahun. Riset membuktikan ketika dewasa, anak-anak tersebut cenderung tidak segan-segan melakukan kekerasan dan tidak memiliki rasa belas kasihan. Harris dan Klebold telah positif menjadi sebagian kecil dari korban budaya kekerasan di media elektronik. Ditambah lagi dengan faktor psikologis mereka yang memang terdapat kelainan sehingga mereka mampu melakukan pembantaian mengerikan tersebut.
H. Kesimpulan
Eric Harris dan Dylan Klebold merupakan remaja yang mengalami gangguan psikologis diperparah dengan budaya kekerasan di sekitar mereka dan kondisi lingkungan yang memberikan celah bagi mereka untuk merencanakan pembantaian tersebut. Kurangnya komunikasi dengan orang tua, orang tua dengan para guru dan pembimbing lainnya mengakibatkan mereka dengan leluasa mengembangkan kemarahan dan kebenciannya menjadi suatu peristiwa yang berakibat fatal.
I. Saran
1. Orang tua memegang peranan penting dalam mengawasi perkembangan anaknya, khususnya saat anak tersebut sedang dalam masa transisi. Pentingnya komunikasi yang intens bersamaan dengan pendidikan agama akan menjadikan proteksi secara tidak langsung bagi perkembangan jiwa anak.
2. Walaupun masih menjadi bahan perdebatan, namun tidak ada salahnya pemerintah mengawasi ketat peredaran senjata di masyarakat sipil agar tidak terjadi penyalahgunaan senjata, terutama di bawah umur.
3. Pihak kepolisian harus lebih tanggap terhadap kekerasan yang terjadi pada kaum remaja, karena kekerasan yang fatal justru berawal pada usia remaja, dimana pada saat itu mereka sedang mengalami masa transisi dengan kondisi kejiwaan yang labil yang harus diawasi secara seksama karena berpotensi menimbulkan kekerasan dengan daya rusak luar biasa.
Daftar Rujukan
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Suhermanto, S.H., M.H. dan Sapto Handoyo DP, S.H. 2006. Diktat Perkuliahan Pengantar Sosiologi. Bogor: Fakultas Hukum Universitas Pakuan.
Gillin, John Lewis dan John Philip Gillin. 1954. Cultural Sociology. New York: The Macmillan Company.
http://www.acolumbinesite.com/.
http://www.cnn.com/. Report: 12 Killed At Columbine In First 16 Minutes.
http://www.davecullen.com/. The Depressive and The Psychopath: At Last We Know Why The Columbine Killers Did It.
http://www.hukumonline.com/. Tragedi Littleton 20 April 1999.
http://www.perspektif.com/. Budaya Kekerasan di Layar Kaca.
http://www.solusihukum.com/. Belajar dari Tragedi Columbine, Tarik Sebelum Tertembak.
http://id.wikipedia.org/tragedi_columbine.
These are the examples of passive sentence:
A. Tenses
- Simple present
They write down the rules on a piece of paper - The rules are written down on a piece of paper by them
- Present Continuous
The prosecutor is questioning the man -The man is being questioned by the prosecutor
- Present perfect
They have broken the law - The law has been broken by them
- Present perfect continous
The police has been watching Aisyah closely - Aisyah has been being watched closely by the police
- Simple past
The father made the rules of conduct - The rules of conduct were made by the father
- Past continuous
The thief was stealing a car - A car was being stolen by the thief
- Past perfect
He had reported the accident to the police - The accident had been reported to the police by him
- Simple future
He will hire a good lawyer - A good lawyer will be hired by him
- Future continuous
Made will be kidnapping Eva and Luvina - Eva and Luvina will be being kidnapped by Made
- Future perfect
The police will have caught Maryam - Maryam will have been caught by the police

Eric dan Dylan menjadi teman akrab tidak lama setelah keluarga Harris pindah ke Littleton. Belum lama berselang mereka telah membuat ‘link’ untuk komputer di rumah masing-masing sehingga banyak waktu yang mereka habiskan untuk bermain ‘video game online’ yang belakangan diketahui bernama ‘Doom II’ yang memuat banyak unsur kekerasan di dalamnya. Eric sangat berharap bisa diterima masuk Korps Marinir tetapi lamarannya ditolak beberapa hari sebelum pembantaian tragis itu. Alasan yang diberikan kepadanya adalah bahwa Eric telah biasa mengkonsumsi obat anti-depresan ‘Luvox’, yang biasa digunakan untuk pasien penderita penyimpangan jenis obsesif-kompulsif. Obat ini ia konsumsi dalam rangka program pemulihan (anger management) pasca pembobolan mobil van tetangganya bersama Dylan. Luvox merupakan jenis obat dengan resep umum, yang biasanya tidak mempunyai efek samping fisik atau psikologis kecuali digunakan bersama-sama obat lain atau alkohol. Namun tidak ditemukan bukti adanya obat lain atau alkohol pada tubuh Harris setelah kematiannya.
Dylan Bennet Klebold, seperti Eric Harris, datang dari sebuah keluarga kelas menengah yang mapan dan sangat dihormati oleh teman, tetangga dan kenalan-kenalan mereka. Dylan lahir pada tanggal 9 September 1981 di Lakewood. Dia sudah bertahun-tahun tinggal di Littleton dengan orang tuanya, Susan dan Thomas Klebold, dan kakak lelakinya Byron.
Dylan Klebold
Tom Klebold, dulunya seorang ahli geofisika, mengoperasikan bisnis manajemen pegadaian dari rumah mereka sementara Sue bekerja pada Konsorsium Negara bidang Pendidikan Umum yang memberikan pelatihan pada murid-murid cacat. Kakek buyutnya, Leo Yassenoff dikenal sebagai tokoh Yahudi terkemuka di lingkungan setempat dan membangun sebuah Pusat Komunitas Yahudi (Jewish community center). Teman-teman dekatnya merasa bahwa Dylan mulai berubah setelah berteman dengan Eric Harris selama tahun 1996.
Sejauh yang diketahui, hanya ada sekali insiden yang menyangkut perilaku kriminal kedua anak ini di masa lalu. Pada bulan Maret tahun 1997, keduanya ditangkap atas tuduhan kejahatan karena melakukan tindakan kriminal membuka paksa sebuah mobil van milik tetangga dan mencuri beberapa barang didalamnya. Harris dan Klebold menunjukkan sikap yang sangat simpatik dan menimbulkan kesan yang baik pada petugas khusus anak-anak yang menangani kasus mereka. Karena itu mereka akan dibebaskan jika tidak mengulang lagi tindakan serupa dan berpartisipasi dalam sebuah program pemulihan moral. Harris diharuskan ikut pelatihan pengendalian kemarahan (anger management) dan sekali lagi, ia menanamkan kesan yang baik pada petugas-petugas di sana.
E. Mengapa Tragedi Tersebut Terjadi
Dari hasil investigasi yang terus berkembang, terkuak sisi lain kehidupan kedua anak itu. Ini sangat kontras dengan yang diketahui orang tua dan teman-teman dekat mereka. Ternyata Eric Harris mempunyai ‘website’ internet sendiri yang secara terbuka menungkapkan kemarahannya kepada orang-orang di Littleton, khususnya para guru dan murid di SMA Columbine. Pada situs ini, Harris menyatakan keinginannya untuk membalas dendam kepada siapa saja yang mengganggu dan menghinanya. Ia memiliki dua blog pribadi dalam website America Online (AOL) dan WBS (Web Broadcasting System). Nama virtualnya adalah ‘REB’ yang diduga singkatan dari Rebel, Rebdoomer, Rebdomine, dan lain sebagainya (terinspirasi dari video game online kesukaannya, ‘Doom II’). Dalam situsnya, terdapat tulisan-tulisan penuh kemarahan dan kebencian terhadap orang-orang di sekelilingnya, sketsa-sketsa grafis yang mengerikan, lelucon-lelucon yang sama sekali tidak lucu dan juga lirik-lirik lagu kesukaannya beraliran heavy metal yang berbau gothic dan kekerasan. Musisi yang menjadi inspirasinya adalah KMFDM (tidak diketahui singkatan dari apa) dengan lagu berjudul ‘Son of a Gun’, Joe Arpaio, Marilyn Manson, dan sebagainya, juga sebuah judul film ‘Natural Born Killer’ yang sering ia singkat menjadi NBK. Yang paling menarik perhatian adalah tulisannya sebanyak 15 halaman secara rinci mengenai ancaman dan rencana pembunuhan atas Brooks Brown, teman sekolah sekaligus kawan sepermainannya, yang kemudian dilaporkan oleh orang tua Brooks ke pihak kepolisian (laporan diterima oleh Detektif Michael Guerrera) namun tidak pernah ada tindakan lebih lanjut dari laporan tersebut dan hanya dijadikan arsip kenakalan remaja semata. Eric juga memiliki jurnal pribadi yang isinya kurang lebih sama dengan kedua websitenya. Malahan, dalam jurnalnya tersebut terdapat rincian rencana pembuatan bom dan pembunuhan besar-besaran yang pada akhirnya ia lakukan bersama Dylan pada 20 April 1999.

Sketsa yang digambar Eric Harris

Isi jurnal Eric Harris
Sementara itu Dylan Klebold yang lebih dikenal sebagai ‘pria jangkung yang pemalu’ aktif di sejumlah kegiatan ekstakurikuler, terutama di bidang IT, pernah diskors karena membobol sistem keamanan komputer sekolah demi mendapatkan password loker para murid untuk balas dendam. Sisi kekerasan pada dirinya mulai terlihat semenjak peristiwa pembobolan tersebut, disusul dengan beberapa tindakan di luar sekolah bersama Eric. Nama virtualnya adalah ‘V’ yang merupakan singkatan dari VoDKa, yang juga bergabung dalam situs game online bersama Eric.

Isi jurnal Dylan Klebold
Pada beberapa bulan sebelum tragedi penembakan, Eric dan Dylan sempat bekerja di restoran ‘Blackjack Pizza’ dan mulai membuat beberapa kekacauan seperti mengujicobakan bom pipa buatan mereka yang informasi pembuatannya didapat dari internet hingga menimbulkan kebakaran di dapur restoran. Dari pekerjaan tersebut jugalah mereka mendapatkan akses untuk membeli senjata melalui rekan kerjanya yang sudah dewasa (karena Undang-Undang Persenjataan di Colorado memberikan batas umur 21 tahun untuk pembelian senjata, sementara itu keduanya belum cukup umur), yaitu melalui Mark Manes dibantu oleh Philip Duran dan teman sekolah Dylan yang sempat dikencaninya, yaitu Robyn K. Anderson. Senjata yang dibeli adalah jenis semi-otomatis TEC-DC9 dan setelah mendapatkan senjata tersebut (2 minggu sebelum penembakan) mereka membuat video latihan menembak yang berlokasi di ‘Rampart Range’. Dalam video yang direkam pada bulan Maret 1999, mereka berlatih dengan Mark dan temannya yang bernama Jessica Miklich yang kemudian dipertontonkan kepada teman sekolah sekaligus rekan kerjanya di restoran pizza, Nathan Dykeman. Dalam video tersebut terlihat Eric dan Dylan yang sedang berlatih menembak dengan pin-pin bowling dan pohon-pohon pinus sebagai sasaran dan mereka tampak sangat menikmati hal itu, terutama ketika tembakan mereka mengenai sasaran.
Sejumlah murid menceriterakan dalam beberapa kesempatan Harris dan Klebold membual akan membalas dendam secara besar-besaran di sekolah tersebut, karena merasa diejek dan dianggap orang buangan (Trench Coat Mafia outcasts). Sebuah proyek video sebagai tugas dari sekolah yang dibuat kedua anak ini memperlihatkan bagaimana mereka berjalan di koridor sekolah sambil memegang senjata, membunuh siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Mereka sangat kecewa ketika guru tidak membolehkan video yang berjudul ‘Hitmen for Hire’ tersebut diperlihatkan pada murid-murid lain karena kekerasan yang ditampilkan.
Tanda-tanda peringatan lain adalah ketika bulan September 1998 Harris dan Klebold (bersama Brooks Brown) mengikuti Creative Writing class (Kelas Menulis Kreatif) dengan Ms Judith Kelly sebagai guru pembimbing. Dalam salah satu tulisannya Klebold membuat cerita tentang seorang pria yang datang ke sebuah kota dan membunuh semua anak-anak populer. Ketika Ms Kelly melaporkan tulisan tersebut pada orang tua Klebold, ia berkilah pada orang tuanya bahwa itu hanyalah cerita belaka. Sedangkan Harris dikenal dengan tema-tema kekerasan dalam tulisannya, seperti Nazisme, dan lain-lain. Banyak guru di sekolah itu menggambarkan kedua anak muda itu mengalami depresi, kemarahan, dan merupakan pengagum Nazisme. Dalam benak beberapa guru, Harris dan Klebold telah menunjukkan tanda-tanda yang mulai mengganggu dari kecenderungan mereka akan kekerasan, dan guru-guru ini telah mengungkapkan kepeduliannya. Namun, tidak ada tindakan yang diambil, karena pada kenyataannya mereka tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkan gejolaknya itu.
Berlawanan dengan kepedulian yang semakin meningkat dari para guru, pihak keluarga Harris dan Klebold mengklaim tidak pernah diinformasikan tentang masalah perilaku anak mereka. Kurangnya komunikasi antara pembimbing khusus anak-anak, petugas-petugas atau guru-guru dan orang tua memungkinkan Eric Harris dan Dylan Klebold menemukan sendiri dunia yang paling dekat dengan mereka, sehingga secara sembunyi-sembunyi merencanakan suatu cara untuk memenuhi fantasi-fantasi kekerasan dan kemarahan mereka.